Internasional

PAKAR MARITIM: SELAT MALAKA TIDAK MUNGKIN DITUTUP TOTAL SEPERTI SELAT HORMUZ

Oleh Eko Ardhiyanto 23 Apr 2026, 07:04 WIB 2 Menit Baca 38 Views 0 Komentar
PAKAR MARITIM: SELAT MALAKA TIDAK MUNGKIN DITUTUP TOTAL SEPERTI SELAT HORMUZ

JAKARTA – Sejumlah pakar maritim memberikan analisis mendalam terkait kekhawatiran publik mengenai kemungkinan Selat Malaka diblokir sepenuhnya menyusul meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan tersebut. Berdasarkan kajian teknis dan geografis, skenario penutupan total Selat Malaka dinilai sangat sulit terjadi dan memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan situasi di Selat Hormuz.

Pakar menilai bahwa karakter geografis Selat Malaka yang luas dengan jalur pelayaran yang lebih kompleks menjadi faktor utama mengapa blokade total mustahil dilakukan. Berbeda dengan Selat Hormuz yang lebih sempit dan rawan dikendalikan oleh satu titik tekanan tunggal, Selat Malaka merupakan koridor panjang yang dikelilingi oleh banyak wilayah perairan yang sulit dikunci secara militer tanpa memicu konflik global yang jauh lebih besar.

Baca Juga: Wacana Tarif Selat Malaka: Pakar Hukum Sebut Tidak Realistis dan Langgar Hukum Internasional

Selain faktor geografi, kepadatan lalu lintas kapal komersial yang mencapai ratusan kapal per hari menjadikannya urat nadi ekonomi yang melibatkan kepentingan banyak negara besar. Keterlibatan langsung tiga negara pesisir, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dalam pengamanan kolektif juga menjadi penghalang bagi kekuatan asing mana pun yang mencoba melakukan gangguan skala besar. Pengawasan ketat melalui kerja sama trilateral ini memastikan bahwa stabilitas jalur tetap terjaga di bawah hukum internasional.

Meski demikian, para pakar tetap memperingatkan bahwa ancaman gangguan taktis maupun gangguan keamanan skala kecil masih tetap ada. Namun, untuk sampai pada titik penutupan total sebagaimana yang sering diancamkan di Selat Hormuz, skenario tersebut dianggap tidak realistis. Keamanan Selat Malaka tetap menjadi prioritas utama negara-negara kawasan guna mencegah dampak sistemik terhadap rantai pasok global.

Video Terkait

Author

Ditulis Oleh: Eko Ardhiyanto

Jurnalis, Redaktur Kepala dan Penulis Lepas

Bagikan Berita Ini

Kolom Diskusi (0)

Tinggalkan Komentar

Jadilan yang pertama memberikan komentar!